Makanan Unik
Sate Kuda, Nikmat Omzetnya, Dahsyat Khasiatnya

Sate daging
kuda tak hanya enak, tetapi konon juga berkhasiat menyembuhkan penyakit
seperti asma, diabetes, dan mampu meningkatkan vitalitas kejantanan
para kaum pria. Tak heran, banyak orang sengaja mencari sate jenis ini.
Pemilik usaha ini bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah per hari.
Kuda
merupakan lambang kekuatan. Jangan heran jika gambar kuda sering
diabadikan sebagai logo obat kuat. Bahkan, ada juga mitos yang
menceritakan kehebatan Patih Gajah Mada berasal dari kegemarannya
menyantap daging kuda saban hari.
Saat ini, masih banyak yang
meyakini mitos ini. Alhasil, cukup banyak yang menjual makanan olahan
dari daging kuda. Salah satunya adalah sate kuda. Bila bertandang ke
Kota Gudeg Yogyakarta, Anda bisa menemui cukup banyak warung yang
menjual sate kuda.
Salah satunya adalah warung Sate Kuda Gondolayu
di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta. Warung sate ini cukup terkenal
lantaran letaknya di jantung kota. Sandra Sukarti mengelola warung ini
sejak tahun 1997. Wanita kelahiran 1965 ini tahu betul bagaimana
mengolah daging kuda yang keras menjadi menu nikmat.
Sandra
mengaku tertarik berjualan sate kuda setelah melihat manfaatnya. "Selain
jadi obat kuat, daging kuda juga bagus buat mengobati penyakit asma,"
ujarnya. Uniknya, kebanyakan pengunjung warung Sandra adalah kaum Adam.
"Mungkir mereka ingin sekuat kuda," kelakarnya.
Sandra
mendatangkan bahan baku daging kuda dari Segoyoso, Plered, Bantul. Saat
sepi, biasanya ia hanya bisa menjual lima kg daging kuda sehari. Omzet
hanya sekitar Rp 500.000 per hari. Tapi, saat musim liburan atau
lebaran, warung ini bisa menghabiskan 30 kg daging kuda dan membukukan
omzet sekitar Rp 3 juta sehari. "Kalau lagi sepi kami buka sampai jam 10
malam. Kalau lagi ramai, saya sudah tutup jam lima sore," katanya.
Sandra
mengolah satu kilogram daging kuda menjadi 10 porsi sate. Harga satu
porsi sate yang berisi lima tusuk Rp 10.000. Sementara, harga satu kg
daging kuda Rp 60.000. "Margin saya bisa 30 persen," ucapnya.
Daging
kuda untuk sate tidak bisa sembarangan. Harus daging has dalam. Bagian
tersebut, menurut Sandra, adalah bagian terempuk dari keseluruhan daging
kuda. "Kalau daging sapi, biasanya ada di bagian lulur dalam," ujarnya.
Akan
tetapi, karena pasokan daging kuda tidak banyak, Sandra kerap mendapat
daging kuda yang sudah berumur sehingga dagingnya alot. Untuk
mengakalinya, daging kuda yang sudah ditusuk-tusuk diberi pelapis daun
pepaya, lantas dimasukkan ke lemari pembeku. "Daun pepaya akan membuat
daging menjadi empuk tanpa berubah warna atau berbau," ujarnya.
Selain
sate daging kuda, Sandra juga menyuguhkan sate zakar kuda. Namun, untuk
mendapatkannya, pembeli harus memesan terlebih dulu. Satu zakar kuda
bisa menjadi beberapa tusuk sate. Harganya Rp 100.000 per zakar. "Cukup
mahal karena harga zakar mentahan mencapai Rp 70.000," ujarnya. Proses
memasaknya juga lebih sulit karena bisa menghabiskan dua liter minyak
tanah agar daging lebih empuk.
Di Jakarta, salah satu penjual sate
kuda yang laris adalah Haji Salindra di Duren Sawit, Jakarta Timur.
Warung ini sudah 1,5 tahun berdiri dan punya banyak langganan tetap.
Setiap hari, Haji Lili, sapaan akrabnya, bisa menghabiskan 15 kilogram
daging kuda yang didatangkan dari Yogyakarta. Dalam sehari, omzetnya
mencapai sekitar Rp 1,5 juta.
Haji Lili membuka warung sate kuda
khusus buat pengobatan. la menyarankan agar pengunjung yang kena
penyakit diabetes atau masuk angin akut sebaiknya menyantap daging kuda
minimal sebulan dua kali.
Haji Lili membanderol harga sate kuda Rp
2.500 per tusuk. Satu porsi berisi 10 tusuk. "Dari harga ini, saya
sudah mengantongi margin 30 persen," ujarnya. (Aprillia Ika/Kontan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar